Senin, 04 Juli 2011
Selasa, 29 Maret 2011
AJA IAIN Sumut Gelar Seminar dan Penandatanganan MoU dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara
AJA IAIN Sumut Gelar Seminar dan Penandatanganan MoU dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara
Nur Ahmad Fadhil Lubis : ”Saya pernah jadi Penulis Free Land dan Penjual Koran”
Medan, BRM
Memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke 65 Asosiasi Jurnalis Alumni (AJA) IAIN Sumut menggelar seminar tentang jurnalis tentang bagaimana peran dan fungsi dalam pembangunan sekaligus melakukan penandatanganan MoU dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara, di ruangan Biro Rektor, Jalan Williem Iskandar Medan Estate, Senin (28/3).
Hadir pada acara tersebut Rektor IAIN Sumut, Prof. Dr H Nur Ahmad Fadhil Lubis MA, Pembantu Rektor IV Prof. Dr. H Ramli Abdul Wahid MA, Ketua AJA IAIN Sumut Suasana Nikmat Ginting SHi, Wakil Ketua Drs. Hamdani Nasution, Sekertaris Suhayri Ramadhan, Ketua Dewan Pakar AJA IAIN Sumut Drs. H Erwan Effendi, Penasehat AJA Drs. Yose Rizal Saragih Msi, Kabag PRT Makmun, Kasubbbag Humas IAIN Sumut Dra. Zainarti MM, Moderator Husni Ritonga MAg dan undangan mahasiswa lainnya.
MoU yang dilakukan tersebut tentang bagaimana membangun pencitraan IAIN yang baik di tengah- tengah masyarakat. Serta bagaimana membangun program yang bisa meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di lingkungan civitas akademik IAIN Sumut.
“ Kerjasama ini mudah- mudahan dapat direalisasikan dengan baik, bukan hanya sekedar MoU setelah itu tidak ada tindak lanjutnya,” ujar Rektor.
Peringati HPN
Setelah MoU dilakukan, seminar tentang jurnalis dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) dipandu oleh Moderator Husni Ritonga MAg, dengan nara sumber Prof Dr. H Nur Ahmad Fadhil Lubis dan dari PWI Sumut, Direktur Pendidikan dan Pelatihan Drs. Mayjen Simanungkalit.
Berdasarkan pengalaman yang dialami Rektor IAIN Sumut Prof Dr. Nur Ahmad Fadhil Lubis MA, jurnalis investigasi sesungguhnya mirip dengan penelitian. Sebab, banyak hal yang ada dalam peneliti terdapat dalam jurnalis, bedanya, menurut Fadhil Lubis, kalau jurnalis setelah dapat data hari ini bisa langsung membuat kesimpulan sementara peneliti memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengambil kesimpulan.
Pada kesempatan tersebut Nur Ahmad Fadhil Lubis yang juga sampai saat ini merupakan anggota Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) pernah menjadi penulis lepas di media nasional maupun internasional seperti di Reuters dan media lainnya di luar negeri seperti, Amerika Serikat (AS), Prancis dan Philipina.
“ Bahkan saya juga pernah menjadi penjual koran dan mengedarkan koran masuk kampus- kampus. Pengalaman ini saya ungkapkan agar semua mengetahui dan menyadari, untuk menjadi orang sukses harus memerlukan perjuangan yang keras dan dari bawah,” ujar Rektor, seraya mengatakan syarat utama untuk sukses dibidangnya termasuk di jurnalis selain intelektual adalah menguasai bahasa dan ini tidak bisa ditawar- tawar.
Rektor menegaskan, sesungguhnya apa yang dibuat jurnalis yang terpenting adalah mengambil pelajaran dari apa yang diberitakan jurnalis. Bukan berarti mereka melakukan ghibah atau mencari- cari kesalahan.
Sementara itu Mayjen Simanungkalit pada pemaparannya mengatakan, jurnalis yang profesional harus mengacu kepada UU No 40 tahun 1999 tentang pers. Dimana di dalam undang- undang tersebut setidaknya terlihat peran dan fungsi pers yaitu, sebagai penyampai informasi, sarana pendidikan, sarana hiburan, sosial kontrol dan kegiatan ekonomi.
“ Fungsi yang paling menonjol dalam pers hari ini adalah tentang sosila kontrol terhadap pemerintah dan menjadi corong infomasi kepada masyarakat” ujar Mayjen Simanungkalit yang juga alumni IAIN Sumut ini.
Namun, tidak dipungkiri oleh Mayjen, dengan kebebasan pers saat ini menimbulkan dampak- dampak yang diantaranya adalah, menjamurnya media, tidak sesuai dengan kode etik, “Anak haram Jurnalis” sebab tidak dikelola dengan profesional dan komunikasi kekerasan.
Sementara itu Ketua AJA IAIN Sumut Suasana Nikmat Gintings SHI pada sambutannya mengnatakan, berdirinya AJA IAIN Sumut pada tanggal 28 Oktober 2010 bertujuan untuk membangun silaturahmi sesama alumni IAIN Sumut yang bergerak di bidang jurnalis di berbagai media lokal maupun nasional, kemudian berupaya melakukan advokasi terhadap alumni yang membutuhkan dalam tugas- tugas jurnalisnya sehari- hari, serta berupaya mengembangkan SDM alumni.RB16
Selasa, 22 September 2009
Kali ini daku menjalani lebaran sangat senang
sebab, bertemu dengan sanak famili termasuk
berjumpa dengan kemanakan-kemanakan yang sudah besar-besar.
Apalagi mereka pintar-pintar dan sayang ama keluarga.
daku ingin lebaran ini akan lebih membuat ikatan yang kuat antara satu dengan lainnya.
karena masa depan yang akan datang itu erat kaitannya dengan masa sekarang.
cocok kan....
Senin, 14 September 2009
Jangan Menyerah Sebelum Habis Perpanjangan Waktu

Rencana yang matang dan hasil sementara yang diperoleh jangan membuat kita menjadi lemah tidak berdaya, apalagi sampai kepada sikap berputus asa terhadap kekuasaan Tuhan.Sebab, sesungguhnya hasil akhir tidak tergantung kepada rencana yang sistematis dan hasil sementara yang diraih, tetapi bagaimana mempergunakan waktu Inzuiri Time (perpanjangan waktu akhir-red) seperti layaknya sebuah pertandingan sepak bola.
Banyak contoh dan pengalaman yang dirasakan tokoh- tokoh dunia di dalam kehidupan karirnya, ada yang melanbung karirnya karena tetap berharap mampu mempergunakan masa inzuiri time dan ada pula yang kandas, karena merasa tidak percaya masa perpanjangan waktu bisa menentukan sebuah perubahan. Ada teman saya yang ingin menjadi anggota KPU Sumut, jika diprediksi dari kekuatannya baik dari berbagai hal termasuk kedekatan dengan sang penentu kelulusan, maka dirinya dipastikan lulus menjadi salah satui anggota KPU. Tetapi, kenyataan berbicara lain, tanpa diperkirakannya kekuasaan Tuhan berbicara sebaliknya, sebab, karena patuhnya terhadap pimpinannya di dalam organisasi kepemudaan maka, dia berangkat mengisi pengajian di luar daerah, padahal esoknya dia harus mengikuti test and propertest. Menurutnya, setelah melakukan pengajian ke daerah dalam rangka mengkampanyekan ketua organisasinya untuk menjadi caleg pada pemilu 9 April 2009 yang lalu, dia bisa kembali ke Medan pukul 06.oo wib. Sementara acara tersebut akan dimulai dari jam 09.00 wib. Tetapi, rencana dan perkiraan tersebut meleset sedikit saja, sebab, ternyata dia tidak bisa sampai ke Medan sesuai jadwal, karena kondisi jalan menuju Kota Medan terjebak macet dan berlubang-lubang. Alhasil, dia sampai di lokasi ujian kompleks USU Medan pukul 09.15 wib, loby punya loby, ternyata dia tidak dibolehkan mengikuti ujian test and propertest tersebut, karena aturan menetapkan tidak boleh terlambat satu menitpun. Dengan hati yang remuk, dirinya harus menerima kekalahan yang dibuat menit- menit terakhir tersebut. Tetapi, ada pula yang sabar dan tabah di dalam menghadapi menit- menit terakhir, dimana dia tidak mau putus asa dengan kekuasaan Allah sebagai sang pengatur jagad raya ini. Sehingga kesuksesan diraih dan karirnya melambung tinggi. Cerita sukses itu dialami tim sepak bola Brazil pada piala dunia, dimana ketika itu bertanding dengan tim kuat dan diprediksi akan memenangkan pertandingan final tersebut. Sebab, tim mereka banyak kehilangan pemain karena cedera dan kena akumulasi kartu kuning, sehingga pasukan yang diturunkan adalah kebanyakan lapis dua. Tetapi karena semangat juang dan kebersamaan yang terbangun, maka tim samba Brazil berhasil keluar menjadi juara dunia karena sabar dan tabah memanfaatkan menit- menit terakhir, sehingga menciptakan gol penentu ke gawang lawan. Padahal, tim kuat tersebut melemah untuk menyerang karena diperkirakan akan menang jika diadu finalti. Tapi ternyata, apa yang dibayangkan tim kuat tidak terwujud karena lebih dahulu mereka dikalahkan menit- menit terakhir dan hasilnya Tim Brazil keluar sebagai pemenang. Beranjak dari pemaparan di atas, maka jangan sekali- kali putus asa dengan kekuasaan Allah sang pencipta, sebab, sebelum hasil akhir ditentukan, masih ada upaya terakhir yang akan merubah keadaan. Sebab, Allah itu maha kuasa atas segala sesuatunya.
